Lewati ke isi
Sawitara

Rendemen OER & KER: cara menghitung yang benar dari LHP

Oleh tim Sawitara (PT Digital Decision Indonesia) · Terbit · Diperbarui

Definisi

OER (%)= CPO dihasilkan (ton) ÷ TBS diolah (ton) × 100KER (%)= PK dihasilkan (ton) ÷ TBS diolah (ton) × 100Throughput (ton/jam)= TBS diolah ÷ jam olah efektif

Ketiganya dicatat per shift di Laporan Harian Pabrik (LHP), bersama jam olah dan jam stagnasi (menunggu buah, gangguan mekanis, boiler/listrik).

Dari mana angka TBS dan CPO berasal

Secara neraca, untuk satu periode berlaku:

TBS diolah= stok TBS awal + TBS diterima − stok TBS akhirCPO dihasilkan= stok CPO akhir − stok CPO awal + CPO dikirim

TBS diterima berasal dari tiket timbang. Stok CPO berasal dari sounding tangki: tinggi minyak diubah menjadi volume dengan tabel kalibrasi tangki, lalu menjadi massa dengan densitas pada suhu terukur. Tentukan sejak awal apakah dasar TBS memakai netto timbang atau berat setelah potongan sortasi, lalu pakai konsisten dan tuliskan di laporan.

Kesalahan paling umum: merata-ratakan persentase

Contoh dua shift dalam satu hari (angka contoh):

ShiftTBS diolahCPOOER shift
Shift 1300 ton66,0 ton22,00%
Shift 2100 ton23,5 ton23,50%
Hari itu400 ton89,5 ton?
  • Rata-rata persentase: (22,00 + 23,50) ÷ 2 = 22,75%. Salah, karena shift kecil diberi bobot sama dengan shift besar.
  • Dari total: 89,5 ÷ 400 × 100 = 22,375%. Ini OER hari itu yang benar.

Selisih 0,375 poin dalam contoh ini hanya karena cara merata-ratakan, bukan karena kinerja pabrik berubah. Aturan yang sama berlaku untuk KER, losses, dan rata-rata bulanan.

Losses dan neraca massa

OER yang turun perlu dicari penyebabnya di oil losses: minyak yang terbawa keluar di stasiun rebusan, kempa (press), janjang kosong, dan limbah cair. Laboratorium mengukur losses terhadap sampel dan terhadap TBS. Total losses harian adalah jumlah losses tiap jenis sampel terhadap TBS; hari yang belum mencakup semua jenis sampel sebaiknya ditandai belum lengkap karena totalnya pasti terlalu rendah.

Neraca massa membandingkan TBS masuk dengan keluaran (CPO, PK, cangkang, tandan kosong, serabut, air dan limbah). Bagian yang tidak ditimbang sebaiknya ditampilkan apa adanya sebagai "tidak terukur" atau "estimasi", bukan dibagi ke persentase standar agar terlihat lengkap.

Tab neraca massa pabrik dari data LHP
Tab neraca massa di halaman pabrik. Tangkapan layar data demo, bukan data perusahaan nyata.

Bagaimana Sawitara menghitungnya

  • LHP per shift menghitung OER, KER, dan throughput saat disimpan; satu LHP per pabrik, tanggal, dan shift.
  • Rendemen periode di dasbor pabrik dihitung dari total CPO dan PK dibagi total TBS, bukan rata-rata persen.
  • Sounding menghitung stok bersih dari tabel kalibrasi tangki dan densitas CPO terkoreksi suhu (koefisien diatur di Parameter Bisnis).
  • Neraca massa memisahkan angka terukur (CPO, PK), estimasi (cangkang dari LHP diisi sebagai estimasi), dan yang tidak diukur.
  • Sampel losses dibandingkan dengan target internal per jenis sampel yang Anda tetapkan.
Halaman stasiun olah dan LHP: stok CPO, OER, KER, throughput, stok cangkang, FFA tangki, dan tren rendemen per shift
Halaman LHP: OER, KER, throughput, dan tren rendemen per shift. Tangkapan layar data demo, bukan data perusahaan nyata.
Baca jugaCara menghitung potongan sortasi TBS berbobotBuka halaman

Lihat Sawitara dengan data demo

Kami tunjukkan alur dari kebun sampai buku besar dalam 15 menit, lalu bahas produk yang Anda butuhkan.